Istilah Strawberry Generation awalnya muncul di Taiwan tahun 1990-an. Disebut begitu karena generasi muda dianggap seperti stroberi:
-
Cantik & menarik dari luar π✨
-
Tapi mudah “penyet” dan rapuh kalau menghadapi tekanan atau masalah π
Biasanya label ini disematkan ke anak muda yang dianggap:
-
gampang menyerah,
-
terlalu manja,
-
kurang tahan banting dibanding generasi sebelumnya.
⚖️ Kenapa Disebut Rapuh?
Stereotip ini muncul karena generasi muda dianggap:
-
Nggak tahan kritik → cepat down saat dikomentari.
-
Cepat stres → banyak yang burnout karena tekanan akademis/kerja.
-
Lebih banyak protes → dianggap suka menuntut tapi tidak mau bekerja keras.
π Sisi Lain: Bukan Rapuh, Tapi Berbeda
Sebenarnya, “Strawberry Generation” juga bisa dipandang dari sisi positif.
-
Lebih peduli kesehatan mental π♀️
-
Berani speak up soal ketidakadilan π’
-
Mencari work-life balance bukan sekadar kerja keras tanpa arah ⚖️
-
Kreatif & melek teknologi π
Artinya, bukan rapuh—tapi lebih memilih jalannya sendiri.
π Relevansi dengan Gen Z di Indonesia
Kalau dikaitkan ke konteks lokal:
-
Gen Z sering dicap gampang “baper” atau “lembek”.
-
Padahal mereka hidup di era penuh ketidakpastian: perubahan iklim, persaingan kerja, digitalisasi.
-
Jadi wajar kalau nilai-nilai mereka beda dengan generasi sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar